ARTIKEL OPINI
TUGAS
INOVASI PEMBELAJARAN
NAMA
: ELLY WAHYUDIATI, SE
NIM : 212015107
JUDUL : PENTINGNYA BERILMU
SEBELUM BERKATA DAN BERBUAT
Ilmu pengetahuan amat penting bagi setiap
individu bahkan dapat meningkatkan martabat manusia. Di dalam Islam, menuntut
ilmu juga merupakan suatu ibadah kepada Allah dan terdapat beberapa manfaat
tertentu dalam proses menuntut ilmu. Pentingnya mempunyai ilmu adalah untuk
membuktikan kekuasaan Allah SWT. Dengan adanya ilmu, manusia dapat membaca Al
Quran yang mana terkandung segala persoalan yang nyata di muka bumi ini. Ilmu
juga membolehkan manusia mengkaji alam semesta ciptaan Allah ini.
Untuk kehidupan dunia kita memerlukan ilmu yang dapat menopang kehidupan
dunia. Untuk persiapan di akhirat, kita juga memerlukan ilmu yang sekiranya dapat membekali kehidupan akhirat.
Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai tujuan hidup insya
Allah akan tercapai.
Islam adalah
agama yang memuliakan orang berilmu. Derajat orang-orang yang berilmu lebih
tinggi dibanding orang yang tak berilmu. Dengan ilmu, seseorang tak mudah sesat
dalam kehidupan karena ilmu ibarat cahaya yang akan meneranginya dari gelapnya
kebodohan. Orang yang berilmu juga lebih mungkin menggapai cita-cita,
keinginan, dan harapan. Kita sebagai orang muslim wajib menuntut ilmu.
Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)
Menuntut ilmu merupakan hal yang wajib dilakukan oleh kita sebagai umat
manusia. Karena dengan menuntut ilmu dapat memperluas wawasan kita tentang
pengetahuan sehingga kita dapat diakui oleh lingkungan masyarakat yang ada di
sekitar kita. Selain itu, menuntut ilmu juga salah satu bentuk ibadah yang
diwajibkan di dalam Islam. Berikut ini keutamaan menuntut ilmu, diantaranya:
1. Dapat mengetahui kebenaran
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak untuk disembah)
melainkan Dia, Yang Menegakkan Keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu
(juga yang menyatakan demikian itu). Tak ada Tuhan yang berhak disembah
melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18)
2.
Mendapatkan pahala yang sama kepada orang yang diajarkan
Dalam sebuah hadist “Barang siapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia
mendapatkan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi
sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya itu.” (HR Ibnu Majah) bahwa kita
mengajarkan ilmu kebada orang lain akan mendapatkan pahala jariyah yaitu pahala
yang tidak akan terputus setelah kita meninggal
3.
Terhindar dari fitnah dan laknat
Hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir
kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau
yang belajar.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh syaikh Al-Albani
dalam sahih al-jami’)
Dalam menjelaskan makna dari hadits tersebut, syaikh Al-Munawi berkata:
“dunia terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan
keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah
lalu mengikuti hawa nafsunya.” (Tuhfatul ahwadzi:6/504)
4.
Allah tidak memerintahkan nabinya meminta tambahan selain ilmu
“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS.
Thaaha [20] : 114). dalil ini merujuk bahwasanya nabi meminta ilmu kepada Allah
5.
Orang berilmu akan diangkat derajatnya
Dengan mencari ilmu, maka kita akan menjadi seorang yang berilmu dan
sebagai cara sukses dunia akhirat menurut Islam. Jangan lupa bahwa janji
Allah yang kepada mereka yang berilmu ialah mengangkat derajat mereka.
Sebagaimana dalam artikel berikut ini :
“Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa
derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan). (QS. Mujadilah 11)
6.
Menjalankan kewajiban
Jika diingat kembali bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW merupakan surat Al-alaq 1-5 yang di dalamnya berisi perintah untuk
membaca. Dalam hal ini tentu sangat berkaitan dengan keutamaan mencari ilmu,
dimana tentunya hal ini merupakan sebuah bentuk kewajiban yang harus dijalankan
oleh semua umat muslim yang ada di dunia. Dimana untuk senantiasa mencari ilmu
agar memperoleh nilai nilai dan pengetahuan yang bermanfaat. Hal tersebut
sebagaimana dalam firman Allah SWT berikut ini.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha
Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman
yang artinya:
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ
“Maka ketahuilah, bahwa Tidak ada sesembahan yang
berhak disembah kecuali Allah dan memohonlah ampunan untukmu dan orang-orang
beriman laki dan perempuan” (Q.S Muhammad: 19).
Ayat
tersebut memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam untuk
berilmu terlebih dahulu dengan firman-Nya “Maka
ketahuilah (berilmulah) …” sebelum berucap dan berbuat yaitu
memohon ampunan kepada Allah Subhaanahu
Wa Ta’ala. Al-Imam alBukhari rahimahullah menuliskan judul bab pada
kitab Shahihnya dengan : “Bab
Ilmu (didahulukan) Sebelum Ucapan dan Beramal“.
Umar bin
al-Khottob radhiyallaahu
‘anhu berkata :
تَفَقَّهُوا
قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا
“Belajarlah ilmu sebelum menjadi
pemimpin” (riwayat Ibnu Abi Syaibah)
Umar bin
al-Khottob radhiyallahu
‘anhu juga berkata :
لَا
يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ
“Janganlah berjualan di pasar kami
orang yang belum paham tentang ilmu agama” (riwayat at Tirmidzi)
Mu’adz
bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berkata:
الْعِلْمُ
إمَامُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal
adalah pengikut ilmu” (Dari kitab al-Amru bil Ma’ruf wan nahyu anil munkar karya
Ibnu Taimiyyah halaman 15).
Umar bin
Abdil Aziz rahimahullah berkata:
مَنْ
عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح
“Barangsiapa yang beribadah kepada
Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki”
(Dari kitab Majmu’
Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383).
Ilmu Menyebabkan Amal yang Sedikit
Menjadi Barakah
Abud
Darda’ radhiyallaahu
‘anhu berkata :
يا
حبذا نوم الأكياس وإفطارهم كيف يعيبون سهر الحمقى وصيامهم ومثقال ذرة من بر صاحب
تقوى ويقين أعظم وأفضل وأرجح من أمثال الجبال من عبادة المغترين
“Duhai
seandainya (kita dapatkan) tidur dan makan minumnya orang berilmu. Bagaimana
bisa orang terperdaya dengan terjaganya (dalam sholat) dan puasanya orang yang
bodoh. Sungguh kebaikan sebesar biji dzarrah dari orang yang bertaqwa dan yakin
(berilmu) lebih agung, lebih utama, dan lebih berat timbangannya dibandingkan amalan
sebesar gunung dari orang yang tertipu (orang bodoh)” (Hilyatul Awliyaa’ juz
1 halaman 211).
Syaikh
Shalih bin Abdil Aziz Aalus Syaikh dalam Syarh Tsalaatsatil Ushul menjelaskan
makna ucapan Sahabat Nabi Abud Darda’ ini bahwa tidur serta makan minumnya
orang yang berilmu jauh lebih besar keutamaannya dibandingkan puasa dan qiyamul
lailnya orang yang bodoh.
Jadi
berilmu dulu ya sebelum beramal - berkata dan berbuat…
Semoga Allah
memberikan kita kemudahan mengamalkan ilmu yang telah kita dapat. Tetaplah
berdoa kepada dzat pemilik segala urusan. Baarakallahu fiikum
Komentar
Posting Komentar