Jangan Suka Fitnah, Bahayanya Bisa Berbalik ke Diri Sendiri
Bahaya fitnah bisa berbalik kepada diri mereka yang memfitnah.
Penderitaan akibat fitnah ini tidak hanya dirasakan orang yang difitnah saja, akan tetapi aktor utama yang menebar fitnah pun akan merasakan akibatnya yang lebih besar *jika dia tidak segera meminta maaf dan bertaubat dengan meluruskan berita fitnah yang sudah terlanjur tersebar.*
Sebab, orang yang suka memfitnah orang lain sebenarnya dia sedang menata penderitaan hidupnya sendiri, cepat ataupun lambat.
Seolah-olah dirinya tidak pernah memikirkan perbuatannya itu sebagai sebuah dosa. Padahal, perbuatannya itu justru mengantarkan dirinya ke dalam jurang kehinaan di dunia. Lebih-lebih di akhirat.
Ada sebuah kisah terkait julukan Sa’îd bin Zaid sebagai orang yang mujâbud da’wah (doanya dikabulkan).
Kisah itu disampaikan oleh ‘Urwah bin az-Zubair rahimahullah bahwa Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu diperkarakan oleh Arwa binti Aus di hadapan penguasa waktu itu, Marwân bin Al-Hakam.
Wanita itu mengklaim bahwa Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu menyerobot sebagian dari tanah miliknya. Maka, Sa’îd berkata, “Apakah aku (akan nekat) mengambil sebagian dari tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasûlullâh?”.
Kemudian Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh bersabda:
مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ اْلأَرْضِظُلْمًا فَإِنَّهُ طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa menyerobot/mengklaim/merampas sejengkal tanah secara zhalim, maka tanah itu akan dikalungkan pada Hari Kiamat dari tujuh bumi”.
[HR. Al-Bukhâri no. 3198 dan Muslim no.1610]
Maka Marwân rahimahullah berkata kepadanya, “Aku aku tidak akan pernah memintamu saksi setelah (mendengar) ini.
Setelah itu, Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu mengatakan, “Ya Allâh, bila Arwa ini memang benar telah berbuat sewenang-wenang kepadaku, maka butakanlah matanya dan jadikanlah kuburnya di sumurnya”.
Lalu Allâh Azza wa Jalla mengabulkan doanya. *Wanita itu akhirnya buta, dan suatu hari, ia keluar untuk memenuhi keperluannya, lalu terjerumus ke dalam sumur miliknya dan meninggal di dalamnya.*
Kisah di atas menunjukkan betapa buruk dan bahayanya dosa menuduh atau memfitnah, sekaligus memberi peringatan kepada kita bahwa perangai ini termasuk perbuatan jahat (zalim) yang semestinya ditinggalkan.
Di sisi lain, kisah di atas memberi hikmah dan pesan yang sangat penting untuk kita bahwa tangisan dan rintihan doa orang yang dizalimi hendaklah ditakuti karena ia akan didengar dan dikabulkan Allah. Termasuk tangisan dan rintihan doa orang yang difitnah.
Copas
Referensi:
https://almanhaj.or.id/8871-sad-bin-zaid-aladawi-radhiyallahu-anhu.html
Komentar
Posting Komentar